Skip to main content

SURABAYA – Melanjutkan rangkaian kunjungan kerja di Jawa Timur, UPT Perpustakaan dan Layanan Digital Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyambangi Perpustakaan Universitas Surabaya (UBAYA) pada 20 Januari 2026. Kunjungan ini difokuskan untuk membedah penerapan standar mutu internasional serta integrasi sistem pengadaan pustaka dengan kurikulum akademik.

Kepala Perpustakaan UMS, Maria Husnun Nisa, S.Sos., M.A., menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas penerimaan yang hangat dari pihak UBAYA. Maria menegaskan bahwa tujuan utama kunjungan ini, selain menyambung tali silaturahmi, adalah untuk belajar lebih mendalam mengenai pengelolaan sarana prasarana, pengembangan sistem, serta strategi manajemen yang diterapkan UBAYA.

Rombongan UMS disambut langsung oleh Direktur Perpustakaan UBAYA, Kristina, S.Sos., M.IP. Dalam sambutannya, Kristina memaparkan bahwa tata kelola perpustakaan UBAYA telah mengacu pada standar ISO 21001:2018 tentang Sistem Manajemen Organisasi Pendidikan (SMOP).

“Sistem ini tidak hanya dijalankan, tetapi juga dipantau secara ketat. Kami melakukan monitoring dan evaluasi melalui audit internal setiap enam bulan sekali, serta audit eksternal oleh badan sertifikasi TUV Nord Indonesia untuk menjamin mutu layanan tetap prima,” jelas Kristina.

Salah satu topik utama diskusi adalah terobosan UBAYA dalam mengintegrasikan pengadaan pustaka dengan Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Melalui sistem ini, dosen dapat lebih mudah mengusulkan penambahan koleksi yang tersinergi langsung dengan mata kuliah. Usulan tersebut kemudian masuk ke dalam silabus dan diproses melalui sistem L-Kampus, yang mencakup layanan koleksi, akuisisi, manajemen pengadaan, hingga Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Selain itu, dijelaskan pula mengenai portal Ubaya Library Services (https://uls.ubaya.ac.id/) yang menjadi gerbang utama akses layanan digital bagi pemustaka.

Hal menarik lainnya adalah pendekatan UBAYA terhadap literasi informasi. Pihak perpustakaan bekerja sama dengan fakultas untuk memasukkan materi literasi digital ke dalam mata kuliah.

“Dengan masuk ke kurikulum, mahasiswa mendapatkan pemahaman mendasar yang kuat. Mulai dari pemanfaatan fasilitas perpustakaan, strategi pencarian jurnal, teknik parafrase, pencegahan plagiasi, penggunaan reference manager, hingga publikasi ilmiah,” papar tim perpustakaan UBAYA.

Diskusi ditutup dengan pembahasan mengenai manajemen koleksi fisik dan digital. UBAYA menerapkan kebijakan penyiangan (weeding) untuk koleksi di atas 5 tahun, namun tetap memberikan toleransi khusus bagi disiplin ilmu tertentu, seperti Teknik, yang referensinya memiliki masa pakai lebih lama. Buku hasil penyiangan ini kemudian dihibahkan dan diinformasikan secara luas melalui media sosial.

Kristina juga memperkenalkan inovasi pelestarian arsip universitas melalui konsep Museum Virtual, yang memungkinkan arsip sejarah UBAYA diakses secara digital dan interaktif. (nnf190/Ai)

Share