Skip to main content

Surakarta, 23 April 2026 — Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas karyawan, UPT Perpustakaan dan Layanan Digital Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan pelatihan dengan topik “Pelatihan Resiliensi dan Kesehatan Mental untuk Karyawan” pada Rabu, 23 April 2026. Kegiatan yang berlangsung selama 3,5 jam ini dihadiri oleh 23 staf perpustakaan UMS dan dibuka secara resmi oleh Kepala UPT Perpustakaan dan Layanan Digital UMS, Maria Husnun Nisa, S.Sos., M.A.

Pelatihan ini merupakan langkah strategis dalam membangun sumber daya manusia yang tangguh dan resilien di lingkungan kerja. Kesehatan mental menjadi fondasi penting bagi kinerja optimal karyawan. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2022, satu dari lima karyawan di tempat kerja mengalami kondisi kesehatan mental yang memerlukan perhatian serius. Selain itu, stigma dan kurangnya kesadaran terhadap kesehatan mental masih menjadi hambatan nyata bagi kesetaraan di tempat kerja.

Pelatihan dibawakan oleh Rina Jayanti, M.Psi, Psikolog, CHt® yang merupakan Psikolog Klinis di RS PKU Muhammadiyah Surakarta dan Certified Clinical Hypnotherapist by AWGI. Beliau membawakan materi komprehensif mencakup pemahaman konsep kesehatan mental dan resiliensi, strategi praktis mengelola stres, serta cara menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif. Pemateri membagikan definisi kesehatan mental menurut WHO yang menekankan bahwa kesehatan mental bukan sekadar ketiadaan gangguan, melainkan kemampuan seseorang untuk belajar, bekerja dengan baik, dan menjalani hidup yang bermakna.

Melalui materi yang disajikan, peserta diajarkan tentang penyebab stres di tempat kerja, antara lain beban kerja yang tinggi, konflik interpersonal, ketidakjelasan peran, serta ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi. Rina Jayanti menjelaskan dampak stres yang tidak dikelola dengan baik, mulai dari burnout—kelelahan total secara fisik dan emosional—hingga penurunan produktivitas dan kualitas layanan terhadap pengguna. Untuk mengatasi hal tersebut, beliau menghadirkan strategi manajemen stres yang terdiri dari tiga pendekatan: regulasi emosi melalui relaksasi dan teknik grounding, strategi perilaku dengan time management dan teknik Pomodoro, serta strategi sosial melalui pembangunan support system dan komunikasi asertif.

Konsep resiliensi yang disampaikan dalam pelatihan mengutip pemahaman dari Ann Masten (2001) yang mendefinisikan resiliensi sebagai kemampuan untuk “bounce back”—bangkit dari tekanan, bertahan, dan justru berkembang dalam situasi yang sulit. Resiliensi bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan kemampuan untuk bangkit kembali dengan lebih kuat setiap kali menghadapi tantangan. Rina Jayanti mengidentifikasi lima karakteristik individu yang resilien: kemampuan mengelola emosi secara positif, berpikir fleksibel, memiliki makna hidup yang jelas, terampil dalam problem solving, serta memiliki dukungan sosial yang kuat.

Pada sesi praktis, peserta dilatih menggunakan teknik grounding untuk melepaskan emosi negatif dan meningkatkan kesadaran diri. Pemateri juga memperkenalkan konsep self-compassion (welas asih diri) berdasarkan penelitian Dr. Kristin Neff yang menekankan pentingnya bersikap lembut terhadap diri sendiri, menyadari bahwa penderitaan adalah bagian dari pengalaman manusia yang universal, serta mengembangkan kesadaran yang seimbang terhadap emosi yang sulit. Teknik Pomodoro juga diajarkan sebagai sistem manajemen waktu yang efektif untuk meningkatkan fokus dan produktivitas kerja melalui pembagian waktu kerja menjadi sesi 25 menit yang diselingi istirahat singkat.

Pemateri menekankan pentingnya pengembangan kemampuan adaptasi dan ketahanan psikologis melalui fleksibilitas berpikir, toleransi terhadap ketidakpastian, dan adopsi growth mindset—kepercayaan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan pembelajaran. Dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat, Rina Jayanti juga membahas peran kepemimpinan suportif, budaya kerja yang seimbang, psychological safety, dan apresiasi terhadap kontribusi karyawan.

Dalam konteks kebijakan kesehatan mental di tempat kerja, Rina Jayanti mengacu pada rekomendasi WHO tahun 2022 yang menekankan tiga pilar utama: pencegahan risiko psikososial di tempat kerja, perlindungan dan promosi kesehatan mental, serta dukungan kepada karyawan untuk pulih dan berkembang. Keseimbangan antara upaya individu dan dukungan organisasi menjadi kunci mencapai kesehatan mental yang optimal.

Maria Husnun Nisa mengapresiasi partisipasi aktif seluruh peserta dan menekankan komitmen perpustakaan untuk terus menghadirkan program-program yang mendukung pengembangan kompetensi dan kesejahteraan karyawan. Beliau menyatakan bahwa investasi dalam kesehatan mental karyawan merupakan bagian integral dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan dan produktivitas di perpustakaan UMS.

Dengan menyelenggarakan pelatihan ini, UPT Perpustakaan dan Layanan Digital UMS berharap dapat memberdayakan setiap karyawan untuk membangun resiliensi yang kuat, mengelola stres dengan efektif, dan menciptakan lingkungan kerja yang positif dan saling mendukung. Pelatihan resiliensi dan kesehatan mental ini diharapkan menjadi momentum awal untuk memupuk budaya kerja yang lebih sehat, produktif, dan bermakna di lingkungan perpustakaan UMS ke depannya. (han/ai)

Share