SURAKARTA – Suasana Sabtu pagi di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terasa berbeda dari biasanya. Lantai perpustakaan yang biasa tenang, kali ini dipenuhi energi segar dari para mahasiswa yang berkumpul untuk merayakan kecintaan mereka pada literasi dalam acara bertajuk “Bincang Buku”.
Kegiatan yang berlangsung pada 14 Februari 2026 ini merupakan buah inisiasi kreatif dari para mahasiswa magang asal Universitas Diponegoro. Menjadi yang pertama di lingkungan perpustakaan UMS, acara ini bukan sekadar diskusi formal, melainkan ruang temu bagi mereka yang rindu akan kedalaman makna di balik lembaran buku.
Rindu yang Tertuang dalam Lembaran Cetak
Di tengah gempuran arus digital yang serba cepat, Ibu Maria Husnun Nisa, S.Sos., M.A, selaku Kepala Perpustakaan UMS, berbagi kegelisahannya mengenai koleksi buku cetak yang kini mulai jarang disentuh. Melalui Bincang Buku, beliau berharap perpustakaan kembali menjadi tempat yang “hidup”—bukan sekadar deretan rak sunyi, melainkan wadah rekreasi dan pendidikan yang partisipatif.
“Harapan kami, kegiatan ini menjadi pemantik awal. Kita ingin melihat kecintaan terhadap buku tumbuh kembali dan nantinya berkembang menjadi sebuah komunitas atau klub buku yang berkelanjutan,” tutur beliau dengan penuh harap.
Membaca dalam Hening, Berbagi dalam Kata
Rangkaian acara disusun dengan apik untuk menyatukan hati para peserta. Setelah dibuka dengan hangat dan dicairkan melalui sesi ice breaking yang penuh tawa, para peserta diajak masuk ke sesi silent reading. Dalam keheningan tersebut, setiap orang diberi ruang personal untuk menyelami isi bacaan dengan lebih mendalam.
Tak berhenti di sana, pengalaman membaca tersebut diabadikan melalui sesi journaling. Di sini, para mahasiswa menuliskan refleksi, keresahan, hingga pesan-pesan yang membekas di hati mereka setelah membaca. Sesi ini kemudian ditutup dengan diskusi kelompok kecil, di mana setiap orang saling bertukar cerita dan melatih keberanian untuk menyampaikan isi pikiran mereka.
“Seru Banget, Mau Lagi!”
Kebahagiaan peserta terpancar jelas di akhir acara. Mayoritas memberikan apresiasi tinggi, bahkan banyak yang meminta agar kegiatan ini segera diadakan kembali.
“Seru banget! Asik dan happy,” ungkap salah satu peserta. Bagi banyak mahasiswa, ini adalah pengalaman pertama mereka merasakan diskusi buku dengan konsep journaling yang unik, yang membuat mereka tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga teman baru dan rekomendasi bacaan yang menarik.
Rumah Literasi yang Inklusif
Melalui Bincang Buku, Perpustakaan UMS ingin membuktikan bahwa perpustakaan adalah ruang yang inklusif dan menyenangkan. Ini adalah langkah kecil namun bermakna untuk mempererat jejaring sosial antar mahasiswa sekaligus memperkuat budaya literasi di kampus.
Dengan melihat senyum dan antusiasme para peserta, Bincang Buku diharapkan akan terus hadir sebagai agenda rutin yang merawat minat baca mahasiswa UMS di masa depan. (kry164)












