Surakarta, 2 Juni 2026 – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Perpustakaan UMS bekerja sama dengan Elsevier menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Pemanfaatan LeapSpace bagi Sivitas Akademika UMS pada Selasa (2/6/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan YouTube Live ini menghadirkan Dr. Johan Jang, Strategic Engagement Manager Southeast Asia Elsevier, sebagai narasumber utama.
Acara dibuka oleh Maria Husnun Nisa,S.Sos.,M.A selaku kepala UPT Perpustakaan UMS yang menyampaikan bahwa UMS memperoleh kesempatan untuk melakukan uji coba (trial) LeapSpace selama satu bulan. Program ini diharapkan dapat membantu dosen, peneliti, mahasiswa, dan tenaga kependidikan dalam meningkatkan kualitas penelitian dan produktivitas akademik melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dalam paparannya, Dr. Johan Jang memperkenalkan LeapSpace sebagai platform AI generasi terbaru dari Elsevier yang dirancang untuk mendukung proses penelitian secara lebih cepat, efisien, dan tetap menjunjung tinggi integritas akademik. LeapSpace memungkinkan pengguna melakukan pencarian literatur dari berbagai penerbit, memperoleh jawaban dalam bahasa alami, serta memanfaatkan fitur Trust Card yang berfungsi mengevaluasi tingkat keandalan jawaban yang dihasilkan AI.
Melalui demonstrasi langsung, Johan menunjukkan cara mengakses LeapSpace melalui ScienceDirect dan mempraktikkan berbagai fitur yang tersedia. Salah satu keunggulan yang ditampilkan adalah kemampuan sistem dalam menilai potensi halusinasi atau ketidakakuratan informasi melalui mekanisme evaluasi yang transparan, sehingga pengguna dapat lebih kritis dalam memanfaatkan hasil yang diberikan AI.
Lebih lanjut, Johan menjelaskan bahwa LeapSpace tidak hanya membantu pencarian referensi ilmiah, tetapi juga menyediakan fitur rekomendasi jurnal, unggah dokumen, serta kemampuan deep research yang mendukung eksplorasi topik penelitian secara lebih mendalam. Ia menegaskan bahwa dokumen yang diunggah pengguna tidak akan digunakan sebagai data pelatihan sistem, sehingga keamanan dan privasi data tetap terjaga.
“LeapSpace menggunakan pendekatan yang netral terhadap penerbit sehingga pengguna dapat memperoleh referensi dari berbagai sumber, tidak terbatas pada satu platform tertentu,” jelas Johan.
Pada sesi diskusi, peserta menanyakan berbagai hal terkait kemampuan bahasa dan fitur penelitian yang tersedia. Johan menjelaskan bahwa LeapSpace dapat menghasilkan jawaban dalam berbagai bahasa sesuai preferensi pengguna. Namun, sebagian besar referensi yang digunakan tetap berasal dari publikasi internasional berbahasa Inggris yang terindeks dalam basis data seperti Scopus dan ScienceDirect.
Selain itu, dibahas pula perbedaan antara mode pencarian standar dan fitur deep research. Menurut Johan, penggunaan fitur penelitian mendalam akan menghasilkan jawaban yang lebih komprehensif karena sistem melakukan analisis sumber yang lebih luas, meskipun prosesnya membutuhkan waktu yang lebih lama.
Terkait pengelolaan referensi, LeapSpace menyediakan fasilitas ekspor dalam berbagai format, seperti RIS, BibTeX, dan CSV, sehingga memudahkan integrasi dengan perangkat lunak manajemen referensi yang umum digunakan peneliti. Menjawab pertanyaan peserta mengenai pencarian jurnal tanpa biaya publikasi (non-APC), Johan menjelaskan bahwa LeapSpace memungkinkan pengguna melakukan penyaringan berdasarkan status akses sehingga dapat membantu menemukan jurnal yang sesuai dengan kebutuhan.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa masa uji coba LeapSpace di UMS berlangsung hingga 1 Juli 2026 dengan akses penggunaan tanpa batas selama periode trial. Johan mengingatkan bahwa meskipun teknologi AI dapat mempercepat proses penelitian, pengguna tetap perlu melakukan evaluasi terhadap referensi dan memastikan kredibilitas sumber yang digunakan sesuai standar akademik.
Melalui kegiatan ini, UMS menunjukkan komitmennya dalam mendukung transformasi digital di bidang pendidikan dan penelitian. Kehadiran LeapSpace diharapkan dapat menjadi solusi inovatif yang membantu sivitas akademika UMS dalam mengakses, menganalisis, dan mengelola informasi ilmiah secara lebih efektif di era kecerdasan buatan. (nnf190/Ai)


























































































