Breaking News
Home / resensi / UDAH PUTUSIN AJA!

UDAH PUTUSIN AJA!

putusinOleh : Cahyana Kumbul Widada (Pustakawan UMS)
Judul : Udah Putusin Aja!
Penulis : Felix Y. Siauw
Visual : Emeralda Noor Achni
Penerbit : Mizania
Tahun : 2013
Halaman : 180

 

Alhamdulillah. Tampilan buku ini memang sungguh menarik! Cover dengan warna pink dan ada gambar love tapi kegunting, begitu pas dengan pangsa pasar kalangan muda. Isi dengan kualitas kertas seperti majalah, ilustrasi warna-warni di setiap halaman, dan konten yang ringan namun berbobot, membawa pembaca terispirasi untuk menuntaskan buku ini.
Ada sebagian buku ini yang halamannya berwarna pink, dan ada sebagian lagi berwarna nila. Halaman dengan warna pink mengkhususkan pembahasan dari sisi wanita. Sedangkan halaman dengan warna nila berisi pembahasan dari sisi pria. Gaya bahasa gaul yang dikemas dalam kicauan ala twitter, ditambah tampilan komik unyu karya Emeralda Noor Achni yang sangat apik membuat buku ini merupakan maha karya yang layak harus dibaca.
Penyajiannya dengan gaya humor mudah dicerna, cukup familier namun tetap sarat ilmu tanpa terkesan menggurui. Argumennya masuk akal dan menginspirasi hati. Tanpa tedeng aling-aling dan dengan lembut memberikan pemahaman, namun tak jarang menikam tanpa ragu membeberkan fakta-fakta kesalahan kita selama ini dan memberi solusi kongkrit. Keren habis dan membumi bahasanya.
Felix Y. Siauw, penulis buku berjudul Udah Putusin Aja! yang tenar dengan gaya kicauan twitternya, dan karya-karya motivasional dan sejarah yang inspiratif. Melalui buku ini dia ingin memaparkan bagaimana memuliakan cinta dengan jalan yang dimuliakan islam. Bukan dengan pacaran yang sudah menjadi dan digandrungi oleh remaja-remaja islam Indonesia. Mengingat begitu tinggi sakralnya pernikahan yang tidak boleh tercemar dengan pacaran. “Untuk mendidik cinta agar bersemi dalam taat, bukan direndahkan oleh maksiat. Agar pemilik cinta tehormat bukan dirundung laknat”.
Buku ini terbagai dalam 11 bab dengan pembahasan bertahap. Mulai dari adanya penjelasan rasa cinta, kemudian mengulas habis tentang perasaan suka kepada lawan jenis. Kemudian dilanjutkan pandangan pacaran dalam Islam yang terlarang, dan untuk kaum hawa diberikan peringatan dini secara langsung dan tegas. Bahaya pacaran memang lebih banyak menyelubungi wanita. Baru kemudian ia menuntun pria yang mengaku lelaki untuk bersikap jantan menghadapi orang tua dari pasangannya, bukan malah menariknya ke dalam jurang ilusi bernama pacaran. Sasaran tembak buku ini sebenarnya adalah anak muda terutama wanita, namun bahasa membumi, kelengkapan isi, dan kekocakan ilustrasi membuat buku ini tetap cocok untuk kalangan lain. Akhirnya memberikan penjelasan karena Islam telah memberikan jalan sesuai fitroh melalui tahapan yaitu Menikah.

Contoh ungkapan dalam buku Udah Putusin Aja!
“Bila melihat fakta ini saja, seharusnya wanita sadar bahwa pacaran bukanlah aktivitas yang aman baginya dan bagi masa depannya. Wanita dengan masa depan cerah itu penting bagi lelaki, tetapi wanita dengan masa lalu tanpa noda itu jauh lebih penting. Dan pacaran tidak mengakomodasikan masa depan, melainkan menghancurkan” (hal. 35)

Buku ini mengarahkan kepada kita yang sedang atau pernah pacaran untuk beristropeksi, karena mengundang datangnya perilaku maksiat lainnya. Manajemen cinta harus tertata dengan baik dan syar’i lewat saluran cinta yang pantas, yaitu cinta untuk orangtua, saudara-saudara, keluarga kita dan juga sayang terhadap diri sendiri. Untuk itu pada cover buku ini ditulis ada rambu “Jaga Kehormatanmu, Raih Kemuliaanmu” yang menggambarkan kalau buku sangat cocok bagi yang sedang galau memutuskan untuk pacaran atau tidak.

Buku ini juga sangat mengispirasi bagi orang yang baru mencari jati diri keislaman yang lebih mantap. Memberikan tulisannya dengan gaya humor dan asyik disertai pantun-pantun membuat dahi ini berkernyit. Mempertimbangkan budaya yang semakin permisif untuk ditinggalkan karena Islam telah memberi solusi yang amat manusiawi.

Sialnya kita hidup di zaman kapitalisme yang mengajarkan lelaki dan wanita masa kini untuk memperhatikan fisik bukan isi, perhatikan badan bukan iman. Kapitalisme menjadikan kebahagiaan materialistis sebagai tujuan tertinggi. Hingga membuat lelaki sejati dalam pandangan Islam menjadi barang yang sulit. Hedonisme, anak kandung kapitalisme, sukses menjadikan lelaki hanya peduli nikmat sampai pada kulit. Wajar bila kita melihat dimana-mana lelaki jadi miskin tanggungjawab dan fakir komitmen.(hal 56)

 

 

About perpus